AS Boikot Pertemuan PBB

AS Boikot Pertemuan PBB – Negosiasi kesepakatan larangan senjata nuklir sudah diawali di Sekretariat PBB, New York, Amerika Perkumpulan minggu ini. Tetapi, pemerintah AS tidak sepakat dengan gagasan kesepakatan itu.

Berbarengan 40 negara lain, AS memimpin koalisi negara-negara, yang berupaya memboikot pembentukan kesepakatan itu. Australia jadi satu diantara sisi dari koalisi itu.

Di kubu lain, ada 113 negara sebagai sisi negosiasi berbarengan PBB. Maksud agenda itu yaitu ; ” bikin instrumen legal-formal untuk seutuhnya melarang pengembangan serta pemakaian tehnologi senjata nuklir “.

Duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley–yang baru ditunjuk Donald Trump pada Januari 2017 lalu–menyatakan kalau dunia bakal jadi tak aman untuk AS tanpa ada hadirnya tehnologi senjata nuklir.

” Saya seseorang ibu, seseorang istri, seseorang anak. Saya senantiasa pikirkan keluarga. Pekerjaan kita (pemerintah AS) yaitu membuat perlindungan bangsa serta negara kita. Untuk membuatnya aman serta damai, ” dalih Nikki Haley.

” Saya sepakat dengan agenda larangan itu. Tetapi jujur saja, di saat saat semua negara sudah mempunyai tehnologi senjata nuklir, saya tidak dapat membiarkan negara-negara jahat diam-diam tetaplah memilikinya, sesaat kami (AS serta koalisinya) yang mempunyai pekerjaan melindungi perdamaian dituntut tidak untuk memakainya, ” tutur Nikki Haley.

Sikap sama juga disibakkan oleh perwakilan negara Perancis serta Inggris. Mereka menyatakan akan tidak menanggalkan pemakaian senjata nuklir.

Negosiasi pembuatan kesepakatan larangan pemakaian senjata nuklir sudah berjalan sepanjang bertahun-tahun. Tetapi sampai saat ini di rasa belum efisien, walau Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat ada 123 negara yang sudah pilih sepakat untuk pembuatan negosiasi itu.

Aspek terpenting ketidakefektifan perumusan negosiasi kesepakatan larangan senjata nuklir itu dikarenakan oleh boikot dari negara-negara adidaya–seperti AS, Tiongkok, Rusia, Perancis, Inggris–yang sudah pasti mempunyai persenjataan nuklir. Mereka ikut di dukung negara-negara yang memiliki senjata nuklir lain seperti India, Pakistan, Israel, serta Australia.

Australia juga adalah satu diantara negara yang begitu vokal menentang negosiasi kesepakatan itu.

Sepanjang berbulan-bulan, Australia sudah melobi sebagian negara untuk kurangi stock persenjataan nuklir sampai 15, 000 unit tanpa ada punya niat untuk menyingkirkan pemakaiannya.

Australia berkelanjutan untuk tetaplah menjaga persenjataan nuklir yang dipunyainya serta bersedia tunduk dibawah naungan payung regulasi pemakaian senjata nuklir yang di buat oleh Amerika Perkumpulan, negara dengan stock persenjataan nuklir ke-2 paling besar didunia. Regulasi itu dasarnya diisi mengenai maksud pemakaian senjata nuklir sebagai bentuk penggentarjeraan.