Skrining Pada Bayi

Pendengaran adalah salah satu indra vital pada diri manusia. Apabila indra ini tak berfungsi secara baik, risiko gangguan bicara jadi salah satu kemungkinan yang tak bisa terelakkan, terutama apabila terjadinya pada usia dini.

Risiko ketulian yang terjadi untuk bayi baru lahir ada pada persentase sebesar 2%. Berhubungan dengan kasus ini, tes maupun skrining pendengaran mestinya dilakukan tak hanya untuk mendeteksi akan tetapi juga menghindari terjadinya risiko gangguan pendengaran. Untuk pasien dengan usia di bawah satu tahun, rehabilitasi pendengaran masih amat mungkin dilakukan apabila orangtua dengan cepat melakukan tes pendengaran mulai dini.

Tes ini jadi sangat penting, sebab apabila dibiarkan tumbuh dengan masalah pendengaran yang tak bisa terdeteksi, risiko masalah kemampuan bicara untuk anak juga makin tinggi. Secara umum, tes demi mendeteksi masalaha pendengaran dibagi menjadi dua macam yakni subjektif serta objektif. Salah satu tes objektif pendengaran yang sering dipakai yaitu Otoacoustic emission (OAE).

OAE merupakan skrining pendengaran untuk menganggap sela rambut yang ada di rumah siput (koklea). Tes yang memakai alat yang memiliki bentuk headset ini bisa mengukur getaran suara pada liang telinga. Secara sederhana, OAE beroprasi sebagai stimulan dan juga receiver. Stimulus yang diberikan melalui headset itu lalu ditangkap oleh sel rambut dengan sebelumnya sudah terlebih dulu menggetarkan gendang telinga serta melewati tulang pendengaran.